SEJARAH DESA


Dalam kisah tutur yang hidup dikalangan masyarakat desa ronggo diceritakan tentang dua orang pemuda kakak beradik yang berasal dari Mataram. Sang kakak bernama Citro Sumo sedangkan adiknya bernama Citro Langkir. Kedua pemuda itu mendapat perintah dari ayah mereka untuk mencari keberadaan orang-orang Portugis. Mereka berjalan dari Mataram ke arah timur dengan menyusuri hutan. Dalam perjalanan itu mereka berhenti di tanah lapang yang bertanah merah dan becek serta tidak ditumbuhi pohon. Setelah beristirahat sejenak, Citro Langkir membuat periuk dari tanah liat. Ia kemudian mengeluarkan beras kantong perkebekalan dan menanaknya dalam periuk yang telah dibuatnya itu. Sementara itu Citro Sumo bersemedi selama 21 hari. Ketika semedinya selesai, Citro Sumo berbincang dengan adiknya. Ia bertanya mengapa Citro Langkir selama 21 hari tidak bersemedi. Citro Langkir menjawab bahwa ia sebenarnya bersemedi, hanya caranya berbeda yaitu dengan tetap terjaga dan makan, bukan berdiam dan duduk bersila seperti dilakukan oleh Citro Sumo. Jawaban itu membuat Citro Sumo jengkel. Ia mengatakan bahwa Citro Langkir tidak gemar bersemedi, melainkan orang yang doyan makan. Citro Sumo lalu menendang hingga pecah periuk buatan Citro Langkir. Tindakan ini mengagetkan Citro Langkir. Ia kemudian bertanya “kakang, periuk itu kubuat dengan ketelitian dan kesungguhan batinku. Kenapa kakang dengan enteng merusaknya? apakah kakang bisa menyatukan periuk yang sudah pecah itu?”. Citro Sumo menjawab, “tidak bisa”. Akhirnya, dengan menggunakan air sisa rebusan nasi, Citro Langkir menyatukan kembali pecahan periuk itu sehingga menjadi utuh seperti semula. Citro Sumo yang merasa kalah sakti dari adiknya lalu pergi ke selatan dan sampailah ia di sendang yang dipenuhi pohon nanas. Citro Sumo masuk dan bersemedi di sendang itu selama beberapa bulan. Pada suatu hari, Kek Onggo Joyo, demang ronggo,memancing di sendang itu. Cukup lama ia menunggu pancing yang telah dilempar ke sendang itu namun belum jugaada ikan memakan umpannya, sampai akhirnya ia tertidur. Anehnya, setelah bangun dari tidurnya, ada serenteng ikan yang sudah tersangkut di mata pancingnya. Ia pun pulang dengan hasil pancingan itu. Sesampai dirumah, Kek Onggo Joyo memberikan ikan kepada anaknya, Temon. Pada hari berikutnya ia memancing lagi di sendang yang banyak ditumbuhi pohon nanas itu. Ia rupanya penasaran dengan kejadian yang dialami sebelumnya. Sesampai di sendang, mata pancingnya diberi umpan bungkusan nasi yang dibawa dari rumah dan kemudian dilemparkan ke dalam sendang. Kurang dari semenit bungkusan nasi itu hilang dan berganti menjadi ikan yang sudah diikat berjejer. Rasa penasaran mendorong Kek Onggo Joyo untuk masuk ke dalam sendang. Disana ia bertemu dan kemudian bertarung dengan makhluk penghuni sendang. Keduanya sama-sama sakti sehingga tidak ada yang kalah. Makhluk penghuni sendang itu tidak lain adalah Citro Sumo. Karena merasa semedinya telah batal, Citro Sumo naik ke permukaan dan segera disusul Kek Onggo Joyo. Keduanya berbincang saling memperkenalkan diri dan akhirnya bersahabatan dan menjadi saudara. Kek Onggo Joyo mengajak Citro Sumo pulang ke kademangan ronggo, sedangkan lokasi sendang tempat bertapa Citro Sumo kemudian diberi nama desa Kalinanas. Setelah berada di kademangan ronggo, Citro Sumo diperkenalkan dengan anak dan istri kek Onggo Joyo. Setelah beberapa lama, pada suatu hari Kek Onggo Joyo berpamitan kepada istrinya untuk pergi memancing. Ia juga mengajak Citro Sumo, tetapi ditolaknya. Kek Onggo Joyo akhirnya pergi sendiri, sedangkan Citro Sumo bersemedi di rumah. Dalam semedi itu ia mendengar bisikan agar melanjutkan perjalanan. Hari telah beranjak sore. Kek Onggo Joyo pun pulang dengan membawa undangan dan ikan gabus hasil pancingan. Ia meminta istrinya untuk memasaknya. Malam itu, Citro Sumo mengutarakan niatnya untuk melanjutkan perjalanan. Kek Onggo Joyo menyetujui sehingga Citro Sumo pun berangkat untuk melanjutkan perjalanan pada keesokan harinya. Sebelum berangkat, Ia berpesan, “setelah saya berangkat dari kademangan dan ada keributan, berarti saya mati. Jemputlah jenazah saya”. Kek Onggo Joyo sangat kaget mendengar pesan itu, namun ia menyanggupinya. Selang 36 hari setelah kepergian Citro Sumo dari kademangan ronggo, muncul keributan sampai terjadi pembunuhan di bagian utara kademangan. Kek Onggo Joyo sangat kaget mendengar berita itu. Ia bergegas menuju ke tempat terjadinya peristiwa itu. Setelah sampai disana, Ia memerhatikan secara seksama jenazah yang tergeletak karena tak diurus warga itu. Seorang warga desa yang kebetulan melintas ditanya oleh Kek Onggo Joyo tentang nama desa dan sebab terjadinya pembunuhan. Warga itu menjawab bahwa desa itu bernama Banggi, sedangkan pembunuhan itu terjadi karena orang yang dibunuh itu dikroyok oleh warga desa itu setelah menggoda pengantin perempuan yang sedang diarak keliling desa. Dibawalah mayat Citro Sumo ke kademangan ronggo. Ketika hendak dikuburkan, mayat Citro Sumo tiba-tiba menghilang lalu terdengar suara “jangan bersedih kakang demang. Sebenarnya aku tidak mati, tetapi hanya menyongsong kemuliaan yang telah ku idam-idamkan, dan aku akan menjadi bupati di Jepara”. Beberapa hari kemudian datang Citro Langkir di kademangan ronggo untuk mencari kakaknya. Setelah diberitahu bahwa Citro Sumo telah meninggal, Citro Langkir memutuskan untuk menetap di kademangan itu. Ia bahkan diangkat menjadi jagabaya. Sejak itu masyarakat kademangan ronggo hidup dalam suasana yang aman dan sejahtera dari hasil hutan dan bertani. Desa Ronggo semula merupakan nama sebuah kademangan yang dipimpin oleh Kek Onggo Joyo. Kademangan ronggo tercakup dalam wilayah kadipaten Jepara. Dalam sumber tradisi yang lain, yaitu Babad Delamong, disebutkan bahwa Citro Langkir telah menjadi seorang penggede di suatu wilayah yang tercakup di dalam kepenewon bedingin. Disebutkan pula bahwa Langkir pergi ke kepenewon itu untuk menghadap kepada gusti atau atasannya. Berdasarkan informasi ini dapat dikemukakan dupaan bahwa Citro Langkir telah menggantikan kedudukan Kek Onggo Joyo sebagai demang di Ronggo. Sayangnya, dalam sumber tradisi ini tidak terdapat informasi yang dapat menggambarkan kapan kira-kira pergantian kekuasaan dari Onggo Joyo ke Citro Langkir itu. Dalam babad delamong juga tidak terdapat keterangan mengenai pergantian status ronggo dari kademangan menjadi desa. Namun babad ini disebutkan bahwa Citro Langkir kemudian menjadi anak menantu Kek Onggo Joyo, setelah itu menikah dengan anak perempuannya yang bernama Temon Murtiasi. Pergantian kekuasaan dari Kek Onggo Joyo ke Citro Langkir dengan demikian terjadi dari ayah mertua kepada menantu laki-lakinya. Hal ini menggambarkan bahwa di Ronggo kekuasaan diwariskan menurut garis laki-laki. Pada abad ke 19 daerah Ronggo merupakan bagian dari wilayah juwana. Pada abad ini Juwana mengalami beberapa kali perubahan status kewilayahan. Hingga tahun-tahun awal dalam dekade 1930an, wilayah Ronggo terdiri dari desa Goghek, Mulyo dan Kesumo. Mengacu pada pendapat Warto, istilah desa dalam masa itu tidak merujuk pada satuan wilayah administrative, melainkan lebih merujuk pada wilayah tempat tinggal komunitas petani yang disebut dukuh atau dusun. Ketiga desa/dukuh/dusun di Ronggo itu berada di kedua sisi sungai randu gunting. Dukuh Goghek dan dukuh Mulyo terletak disisi timur, sementara dukuh Kesumo disisi barat sungai itu. Sungai randu gunting juga dijadikan batas antara prefecture Juwana dan Rembang. Pada 1944 Juwana ken dihapus dengan mengubah statusnya menjadi Juwana son, dan dimasukkan ke dalam Pati syuu. Perubahan Juwana dari kabupaten menjadi kecamatan itu diikuti pula dengan perubahan di Ronggo. Sejak saat itu desa Ronggo dipecah menjadi dua desa. Dukuh Goghek dan Mulyo digabung menjadi desa Ronggo Mulyo dan masuk ke dalam wilayah Rembang ken. Sementara itu dukuh Kesumo menjadi desa Ronggo dan masuk ke dalam wilayah Pati ken yaitu di Jaken son, Jakenan gun. Topografi desa Ronggo berbukit-bukit dan sebagian besar wilayahnya berupa hutan jati. Meskipun udaranya tidak terlalu panas, kondisi tanahnya kering dan didominasi batu padas karena desa ini berada dalam gugusan pegunungan kendeng. Kondisi tanah yang demikian terutama di daerah Ronggo bagian selatan dan barat daya. Tidak mengherankan jika tanah di daerah ini digunakan sebagai lahan tegalan. Sementara itu tanah di bagian timur dan utara berupa endapan lumpur dari hulu sungai sehingga dapat digunakan sebagai lahan sawah tadah hujan. Pada musim kemarau daerah bagian selatan mengalami kekeringan, sedangkan di bagian utara masih dapat ditemukan sumur-sumur yang menghasilkan air tanah untuk mencukupi kebutuhan warga desa. Curah hujan rata-rata di desa ini tergolong rendah. Pada tahun 1987 desa Ronggo dilanda musim kemarau panjang dengan curah hujan 1.906 mm dan hari hujan 100 hari. Hal ini membuat seluruh bagian desa ini mengalami kekeringan. Musim kemarau yang panjang pada tahun ini juga membuat suhu udara meningkat hingga mencapai 33 derajat celcius. Penghapusan pajak per kepala pada masa daendeles ternyata juga tidak selalu dipatuhi. Sutikno, jagabaya Ronggo pada 1980an, yang ayahnya pernah menjadi petugas penarik pajak per kepala (pajeg gelo), menuturkan “naliko jaman londo angger uwong ditarik pajeg gelo regane 10 sen”. Pada zaman belanda, setiap orang ditarik pajak per kepala sebesar 10 sen. Pernyataan itu diperkuat dengan keberadaan sebuah arsip girik sebagai bukti pembayaran pajak per kepala yang ditemukan di kantor kepala desa Ronggo. Girik itu menunjukkan bahwa kebijakan daendeles yang sejak 1808 telah menghapuskan pajak per kepala ternyata tidak selalu dipatuhi. Setidaknya sampai dengan 1922 pajak per kepala masih diwajibkan bagi orang kalang di Ronggo. Keberadaan girik pajak gelo itu sekaligus dapat memperkuat cerita tentang orang kalang sebagai nenek moyang orang Ronggo. Jumlah penduduk desa Ronggo pada tahun 1944 berjumlah 4.132 jiwa. Jumlah ini terdiri dari 2.050 penduduk laki-laki dan 2.082 penduduk perempuan. Mayoritas penduduk Ronggo memiliki tingkat pendidikan formal Sekolah Rakyat (SR) dan Sekolah Dasar (SD). Sampai dengan 1990an di desa ini terdapat satu buah taman kanak-kanak (TK) yaitu TK Ngudi Rahayu, dan tiga buah SD Negeri. Mereka yang setelah lulus SD ingin melanjutkan pendidikan ke tingkat menengah pertama harus pergi ke desa Tegalarum dan desa Sidoluhur karena SLTP di kecamatan jaken berada dikedua desa itu. Sementara itu pendidikan tingkat menengah atas hanya dapat ditempuh di Pati.
Facebook Comments